K-Movie Innocence (2020): Everyone Is a Little Bit Grey


Gue akhirnya nonton Innocence karena film ini lewat terus di FYP ๐Ÿ˜ญ dan sebagus itu ternyata. Dengan pemeran Hong Kyung dan Shin Hye Sun—itulah alasan kenapa gue nonton ini. Tapi tenang, waktu lo akan sangat sepadan dengan akting dan jalan cerita yang disuguhkan.

Agak menyesal, kenapa baru nonton di 2026 ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ‘‰๐Ÿผ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿผ

Story Line
Innocence adalah film Korea Selatan yang mengisahkan Jung-in (Shin Hye Sun), seorang pengacara yang kembali ke kampung halamannya setelah mengetahui bahwa ibunya, Chae Hwa-ja (Bae Jong-ok), menjadi tersangka kasus peracunan di acara pemakaman ayah tirinya.

Ibunya mengalami demensia dan kesulitan mengingat banyak hal. Jung-in pun memutuskan untuk membela ibunya sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, semakin jauh dia menggali kasus ini, semakin banyak rahasia masa lalu yang terbongkar๐Ÿง

Setelah nonton, gue pahamlah kenapa judulnya INNOCENCE. Semua tokohnya innocence, hahaha.

Eh, bukan berarti mereka semua nggak bersalah, ya. Justru masing-masing punya kesalahan sendiri yang bikin film ini berjalan. Terutama si ibu dan ayah tirinya yang sangat memberi kejutan ๐ŸŽŠ๐ŸŽ‰


Ternyata, ayah kandung Jung-in dibunuh oleh ayah tirinya ketika ibunya sedang mengandung Jung-in. Ada juga teman-teman ayah tirinya yang terlibat dalam kejadian tersebut. Mereka dulunya bekerja sebagai karyawan ayah kandung Jung-in. Udah ikut gemes belum, lo?!

Dan yang bikin makin menarik, salah satu orang yang menjadi otak di balik pembunuhan itu justru punya kekuasaan di masa kini. Choo In-hoe, yang sekarang menjabat sebagai wali kota, ternyata menyimpan keterlibatan dalam kejahatan masa lalu. Pada akhirnya, dia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Lah, jadi ke mana-mana? ๐Ÿ‘€
Di situ menariknya. Kasus yang awalnya terlihat seperti peracunan di acara pemakaman ternyata membuka persoalan yang jauh lebih besar. Ada pembunuhan, pengkhianatan, rahasia keluarga, sampai penyalahgunaan kekuasaan.


Everyone is grey. Nggak ada yang benar-benar hitam atau putih.
Jung-in sendiri juga bukan karakter yang sepenuhnya tanpa kesalahan. Dia pergi dari rumah, melanjutkan kuliah dan membangun karier sebagai pengacara di Seoul, lalu lama nggak pulang.

Tapi gue nggak bisa sepenuhnya menyalahkan dia juga. Rumahnya sendiri bukan tempat yang nyaman buat dia tumbuh. Sang ayah nggak mendukung dirinya, bahkan Jung-in pernah disalahkan sebagai penyebab kondisi adiknya yang memiliki kebutuhan khusus.

Bayangin tumbuh di lingkungan seperti itu. Wajar kalau dia ingin pergi dan membangun hidupnya sendiri.

Cuma, ada satu hal yang bikin gue kepikiran. Pada malam Jung-in pergi, ibunya sebenarnya memihak dia. Sayangnya, Jung-in keburu pergi sebelum mereka benar-benar bisa menyelesaikan semuanya. Akhirnya, mereka kehilangan banyak waktu bersama.

Di satu sisi, Jung-in punya luka dan alasan untuk menjauh. Di sisi lain, ada hubungan ibu-anak yang ikut terluka karena keputusan tersebut.

Makanya, gue merasa karakter-karakter di film ini menarik. Mereka bukan sekadar orang baik dan orang jahat. Ada orang yang melakukan kesalahan, ada yang menjadi korban, dan ada juga yang bisa menjadi keduanya dalam cerita yang sama.

The Battle Field
Terus, bagian persidangannya juga menarik. Gimana sulitnya Jung-in sampai pada kesimpulan bahwa ayah tirinya terlibat dalam kematian ayah kandungnya. Dia nggak bisa sekadar berdiri di ruang sidang dan bilang, "Kayaknya dia pelakunya."


Dia butuh bukti, saksi, dan orang-orang yang mengetahui kehidupan orang tuanya. Dia harus menyusun potongan-potongan kejadian yang selama ini tersembunyi, sekaligus menghadapi orang-orang yang punya kepentingan untuk menutupi kebenaran.

Di sini, kemampuan Jung-in sebagai pengacara benar-benar diuji. Bukan cuma soal kepintaran membaca kasus, tetapi juga kebijaksanaan dalam memahami situasi dan menentukan langkah yang harus diambil.

Hakim pun diuji kebijaksanaannya. Karena ketika kebenaran mulai terungkap, persoalannya nggak lagi sesederhana menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak.

Ada masa lalu, ada keluarga, ada kekuasaan, ada keadilan, dan ada konsekuensi dari setiap keputusan.

Plot-nya menurut gue oke. Ceritanya masuk akal dan connect the dotsnya juga klop. Memang ada banyak hal yang harus dibongkar, tetapi masih bisa diikuti. Dan ketika plot twist-nya muncul, gue cuma bisa, "whoa, daebak!" ๐Ÿซข๐Ÿซถ๐Ÿผ

Fav Scene
Tapi scene favorit gue justru bukan plot twist-nya.
Scene favorit gue adalah ketika sang ibu untuk sesaat, kembali mengenali Jung-in sebagai putrinya.


Jung-in yang udah syik-syak-syok, bingung, dan nggak tahu harus berbuat apa setelah menghadapi kenyataan tentang keluarganya, malah ditenangkan sama ibunya sendiri. Kkaepjjang, kalo kata SUGA.

Lo nggak nangis atau minimal berkaca-kaca di scene itu, jago banget.

Gue suka bagaimana adegan ini terasa sederhana, tetapi emosinya sampai. Sepanjang film, kita melihat hubungan ibu dan anak yang rumit. Jung-in punya luka sendiri, sementara ibunya perlahan kehilangan ingatan. Terus, di saat Jung-in sedang kehilangan pegangan, ibunya justru menjadi tempat dia bersandar.

Jung-in akhirnya mengetahui banyak hal yang selama ini tersembunyi. Dia tahu ibunya punya kesalahan, tetapi dia juga tahu bahwa ibunya adalah seseorang yang telah mengalami banyak penderitaan.


Pada akhirnya, Jung-in memilih untuk tidak terus mengejar hukuman bagi ibunya. Sementara itu, kejahatan orang-orang lain yang terlibat tetap harus dipertanggungjawabkan.

Kadang, kita perlu melihat keadaan secara utuh sebelum memutuskan apa yang seharusnya dilakukan. 

Terus, ending-nya manis. Hahaha. Gue suka bagian akhirnya, terutama karena si adik, Jung-soo, memang suka merekam dan memotret ๐Ÿ“ธ 

Setelah semua yang terjadi, ada momen ketika dia mengabadikan ibu dan kakaknya di tepi danau. Sederhana banget, tetapi terasa berarti setelah perjalanan keluarga ini yang penuh masalah.


Terakhir, soal Hong Kyung. Karena film ini mengantarkan dia meraih penghargaan Best New Actor kategori film di Baeksang Arts Awards 2021, yang bikin gue makin penasaran sama penampilannya di sini. 

Keren sih, emang. Cuma, ah, screen time-nya kurang. Eh, tapi udah paslah dengan karakternya, yakan? hahaha 

Terlepas dari itu, gue bisa memahami kenapa penampilannya mendapat apresiasi. Dia nggak harus mendominasi layar untuk membuat karakternya punya tempat dalam cerita. Tapi swear, tiap dia muncul seru ๐Ÿ˜


Overall, Innocence jadi salah satu film yang bikin gue berpikir bahwa benar dan salah memang sudah jelas, tapi dalam menentukan siapa yang salah dan benar, beserta hukuman yang tepat kadang nggak sesederhana yang kita bayangkan.

Manusia bisa melakukan kesalahan, menyimpan rahasia, menyakiti orang lain, sekaligus punya sisi yang membuat kita memahami kenapa mereka menjadi seperti itu.

Dan mungkin, itu juga yang bikin judulnya terasa menarik. Innocence. 5/5 from me yang agak sedih baru liat filmnya tahun ini ๐Ÿซถ๐Ÿผ

Let's close w/ a quote from this movie:
"Temukan bukti yang konsisten dan tak terbantahkan! Jika cukup konsisten, itu akan menjadi kebenaran. Kebenaran yaitu kebohongan dengan celah kecil." —gitu tuh, kenapa manusia bisa lebih rendah dari binatang -_-


Komentar