Pagi itu, jam di tanganku menunjukkan pukul 06.30 WIB. Aku sudah rapi dengan pakaian seragam sekolah hari itu. Hari Senin. Putih-biru dongker. Selesai menyematkan pin di jilbab, aku bergegas menuju sudut kamar. Tempat di mana lemari sahabatku berada. Biasanya, dia sedang melihat pantulan wajahnya di cermin. Memantaskan jilbabnya. Atau kalau dia lupa semalam belum menyiapkan pelajaran hari ini, dia sedang menyiapkan pelajaran. Atau sedang menantiku untuk sarapan bersama.
Oh ya, namaku Ayda. Aku seorang pelajar di salah satu pesantren modern. Biasa lebih sering disebut dengan santri. Aku tinggal di sebuah kamar dengan puluhan teman-teman dari berbagai tempat asal. Dan yang tadi aku ceritakan di atas, teman dekatku namanya Ayla. Aku dekat dengannya sejak awal masuk pondok. Walaupun jarak lemari kami jauh-aku di barisan depan dan dia di sudut kamar-, tapi di kelas dia duduk tepat di belakangku.
Kami duduk di kelas 1 Tsanawiyyah. Anak baru. Baru masuk minggu ke tujuh. Walau baru beberapa minggu tapi aku sudah merasa dekat dengan Ayla. Karena dia baik. Kami sering, malah bisa dibilang selalu bersama. Tapi tidak menutup kemungkinan yang lain untuk bergabung bersama kami. Saat minggu ketiga Ayla sakit. Aku bingung. Aku kasihan. Jadi aku bantu dia sebisaku. Melapor ke kakak pengurus. Menyuapinya makan dan mengingatkan untuk minum obat. Mencarikannya air panas. Mengompresnya. Begitu pun dia saat aku sakit. Kami saling tolong-menolong saja. Maklum, anak rantau. Hehehe. Saat Ayla dijenguk keluarganya aku suka diajak. Dan saat aku dijenguk aku pun mengajaknya.
Namun kini, yang kudapati hanya petakan lantai kosong tanpa lemari yang biasa ada di atasnya. Aku duduk bersandar di sudut itu. Tempat aku biasa makan bersama Ayla. Tempat aku menunggunya selesai merapikan jilbab. Tempat aku bercerita kepadanya di kamar ini. Hilang. Lemari itu hilang. Hilang bersama pemiliknya. Yang membawa separuh jiwaku. Hilang bersama rasa nyamanku. Teman dekatku itu hilang. Ia pergi dengan meninggal pesan buatku dalam sebuah surat. Ia tidak bisa bersamaku karena rasa tidak betah. Dalam suratnya ia berpesan padaku agar aku kerasan di pesantren. Agar aku lulus dan menjadi ustadzah.
Bagaimana aku akan kerasan Ay, sedang kau tak lagi ada di sampingku? Kau bilang kita akan bersama sampai garis akhir wisuda. Tapi, mengapa kini kau yang meninggalkan arena pertanding lebih dulu?
Komentar
Posting Komentar